Rabu, 23 Januari 2008

Masyarakat Bergambar " Bunker Cafe"

Kertas Performance

Masyarakat bergambar

16 Januari 2008 ; Pukul :21.30 – till drop

Bunker Cafe

Jl. Magelang Yogyakarta

PUISI PERFORMANCE

“ Bandar daun Kering “

Ada dua kepala berkerudung plastik saling berhadapan dan diam.Satu kepala melempar air plastik kemudian berjalan dengan tumbuhan di tangannya yang terbalut sarung tangan karet. Sarung tangan karet itu membawa nomor nomor yang tidak selalu berurutan namun menjadi tiket pasti penerbangan selanjutnya. Perputaran peristiwa dunia puitis disini dikonstruksi oleh rute penerbangan pesawat yang terkadang macet atau jadwal terlambat. Akhirnya, kuharap antrian tidak terlalu panjang…!dan kepala-kepala plastik tak lagi bertikai untuk semua bisa tertawa dengan tiket ditangannya.

Puisi performance ini menggunakan material bibit tanaman, air, kantung plastik, kertas tanda tangan dan pena, drum/pot besar.

Teks puisi : Bandar Daun Kering

Pohon jati, disebarkan pagi petang. Daun runcing, ditumbuhkan satu acungan senapan. Panen tiba, kerumunan berbekal kain kafan.

Yeah…

Satu hembusan, tangan berlumur kecemasan. Dua tarikan waktu, suara bising mengharu biru.

Kemana batas yang popular itu?

Akar ganja dililit pertikaian, perang saudara sia sia. Manusia tanpa daun, manusia tancapkan papan silang.

Mengapa telanjang bulat di kaki Bandar picisan?

Merataplah kebandar bumi, segaris penjuru mata angin, dalam kesunyian asap sembunyi, sebatu gunung anakan. Berpetualanglah dikancah pertarungan.


Dry Leaves Dealer

The tree of heart

Spreading by the days to come, until night is coming

The leaves are sharp, growth with shadow of guns

So it’s the harvest time, groups with shroud in their heads

Yeah…

Hands to work, but still covered by its overanxious

Over joy yet come to this neighborhood

Where is the popular boundary, is black, or is it white? But, not grey!

The root of marijuana is twisted by clash of titans, the vendetta is wasted

Men without leaves, dying

Men stake in the forbidden sign

Why bare naked and beg on the guardians of global hollow?

Just lament to mother earth, the shit grows in every corner

In the silent hide the smoke

There’s always a way, the freedom is in your heart

Feel it, the battle is waiting

Puisi Performance Creamuspoet Text Yoyojewe dan Bagus Dwi Danto Text Reader Inna Hudaya, Gernandi, Yoyojewe Performer Bagus Dwi Danto dan Yoyojewe Music Carly Roosens dan SS Music Editing Gernandi Managerial Diah Enggar >> Phone 081804242552 Road Manager Inna Hudaya>>0817271240 Email creamuspoet@yahoo.com

PUISI PERFORMANCE

“Kamar Sebelah yang Tumbuh”

Pada tubuh manusia sejak lahir mengalami banyak keanekaragam peristiwa di kehidupannya, baik hubungan tubuh sosial dengan tubuh individu, bahkan sampai terkadang sulit mengingat dan membedakan apa saja yang telah di lakukan oleh tangan, kaki, jari, telinga, pinggang, paha, bahu, lutut dan lainnya, tapi tetap saja bagian-bagian tubuh itu menyimpan ingatan, tumbuh, membuat peristiwanya dan dengan sendirinya mengalami evolusi.

Dance performance ini, mengajak pribadi mengenali bagian-bagian personal pada tubuhnya. Seperti, ketika jari-jari difungsikan mengiris cabai, menutup jendela, bagian tubuh dirajah tato, tangan mencuci piring/ gelas, kaki menginjak genangan air, menggunakan sepatu roda, pinggang terkena benturan benda keras dan lain sebagainya.


Kamar Sebelah yang Tumbuh

Ada kabar dari sahabat-sahabat. Bahwa cuaca buruk akan segera tiba. Selekasnya saja. Tubuhku sembunyi pada peluru pistol. Untuk sebuah perburuan agung. Tubuh tak berkelamin. Tubuh yang tumbuh. Ada satu sahabatku bertanya,”Kau punya anak, yo? Kujawab, “Ya, satu perempuan.“ Dia bilang “Wah… apakah itu tidak menyeramkan?” Aku tidak tahu. Tubuhku seperti tamasya, mas. Percakapan yang tumbuh. Lalu bulu bulu anjing miliknya rontok,dia masukkan plastik. Kubilang, “Dibuat boneka saja!“ Cerdas! tapi cerdas itu mungkin penyakit, katanya lagi. Aku tidak tahu. Denyut otak. Arus listrik yang tumbuh. Aku menjadi ingat, pada setiap petang kulit tanganku berlapis-lapis. Besi mencangkul matahari. Dibelakang rumah, si empu tanah sudah meninggalkannya. Pohon cabai dan terong punya rumah. Walau setelah itu, layu, mati. Kulit tangan yang tumbuh. Udara malam mulai ramai. Kakinya mengayuh sepeda. Kencang. Menuju pesta kota. Kaki yang tumbuh. Sahabat mengkabarkan. Cuaca buruk telah tiba. Kusebut saja, kamar sebelah yang tumbuh.

Puisi Performance Creamuspoet Text Yoyojewe Text Reader Satya Roosens Performer Bagus Dwi Danto dan Yoyojewe MusicCamelly dan SS Music Editing Tonny Maryana Managerial Diah Enggar >> Phone 081804242552 Email creamuspoet@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Templates by Blog Forum